Selasa, 05 Oktober 2010

Wawancara Khusus dengan Jovo Cuckovic “Saya Ingin Personal dengan Pemain…”

SEHARI setelah Persib Bandung bisa menahan imbang Persela Lamongan dengan skor 1-1, pelatih Jovo Cuckovic terlihat santai. Kakek berusia 61 tahun ini menikmati sesi sarapan pagi dan makan siang dengan leluasa. Tak jarang, dirinya lebih banyak berbincang dengan asisten Robby Darwis dan pelatih kiper Anwar Sanusi.

Uniknya, pada laga perdana Maung Bandung di Liga Super Indonesia (LSI) 2010/2011 ini, Jovo belum bisa memberikan instruksi di bench cadangan karena persoalan administrasi. Namun, hal tersebut tidak membuatnya patah semangat untuk memberikan instruksi melalui Robby meski terhalang pagar pembatas. Alhasil, pada menit ke-60, Persib bisa melesakkan gol balasan.

Wartawan Seputar Indonesia Raka Zaipul yang mengikuti tur Persib ini sempat melakukan obrolan cukup lama dengan pelatih asal Serbia ini. Berikut ini hasil obrolan santai yang dikutip menjadi wawancara khusus bersama pelatih yang mulai dijuluki The Godfather ini dan secara khusus juga dipublikasikan untuk www.persibholic.com.

Bagaimana Anda melihat performa Persib pertama kalinya?

Saya cukup kaget pada babak pertama mereka lebih banyak diam. Semua pemain nyaris kehilangan bola. Mereka tidak mau berlari, sulit mengoper bola dan bola mudah dicuri lawan. Tapi menurut saya ini wajar. Karena kita kan sama sekali belum pernah melakukan uji coba. Pemain belum bisa beradaptasi. Makanya, saat jeda babak pertama, saya langsung minta mereka bergerak. Gimana mau menang kalau kita tidak mau bergerak.

Bagaimana Anda melihat komposisi pemain Persib saat ini?

Semua juga tahu bahwa Persib diisi pemain berkualitas. Kita punya lima pemain timnas di sini dan dua pemain timnas Singapura. Jadi harusnya kita bisa lebih unggul. Kita ada Cristian Gonzales. Dia pemain bagus tapi terlalu gendut. Jadi, dia harus kurangi berat badannya. Tapi buat saya kualitas pemain bukan masalah utama. Dalam sepakbola, kerjasama tim adalah yang utama. Percuma pemain bagus kalau di lapangan main sendiri-sendiri.

Lalu, apa yang Anda lakukan agar tim ini bisa bermain kompak?

Tugas saya adalah membangun motivasi para pemain. Saya lihat mental dan semangat mereka masih sering naik-turun. Ini adalah yang utama. Setelah itu, saya minta pemain nurut dengan instruksi pelatih. Tidak masalah mereka tidak bisa bahasa Inggris. Tapi instruksi kita jelas, satu bahasa, bahasa sepakbola. Mereka boleh improvisasi tapi sebelumnya mereka harus jalankan dulu perintah pelatih.

Apa Anda banyak memberikan pengarahan kepada pemain?

Saya tidak suka banyak meeting. Buat saya, meeting sebelum latihan atau main itu hanya cukup 10 menit saja. Sisanya play, play dan play. Sepakbola itu bermain bukan teori. Kalau pemain diberi banyak masukan, mereka akan bingung. Teori cukup 10 menit setelah itu mereka bermain. Baru kita evaluasi dari cara mereka bermain. Saya tidak suka teori!

Apa Anda juga melakukan pendekatan kepada para pemain?

Sebetulnya harusnya mereka yang mendekati saya. Terus terang, saya ini ingin personal dengan semua pemain. Kalau mereka ada apa-apa, jangan segan datang ke saya dan mari kita bicara. Ini karena tugas saya adalah membangun semangat semua pemain. Di lapangan saya memang keras. Tapi di luar itu, saya ingin bisa bercanda dan dekat dengan pemain dan semuanya. Kita ini adalah keluarga, jadi harus saling memahami.

Gaya melatih Anda cukup keras dan sering berteriak-teriak kepada pemain. Memang ini sudah dari dulu?

Seperti yang saya bilang, gaya saya ya seperti ini. Saya senang jika harus teriak kepada pemain. Saya memang keras saat meminta pemain menuruti instruksi saya. Tapi kalau pemain itu sudah benar, saya akan fair, saya akan angkat jempol buat dia. Tapi di luar lapangan, saya senang bercanda dengan semuanya.

Apa yang Anda lihat dari tim Persib ini?

Jujur saja, Persib ini tim besar tapi juga punya masalah besar. Sudah 15 tahun tidak juara kan? Ini adalah sebuah masalah yang besar. Tim dengan sejarah dan pemain hebat tapi dalam waktu yang sangat lama tidak juara. Ada apa? Tapi saya mencoba menganalisa semuanya. Ternyata persoalannya banyak. Kita tidak punya infrastuktur yang memadai. Saya baru tahu kalau lapangan yang ada di Kota Bandung itu sangat tidak layak. Kita tidak punya pembinaan yang jelas atau sekolah sepakbola dengan standar internasional. Dan yang terpenting, pemain kita setiap musimnya berganti. Ini tidak benar. Karena untuk jadi juara itu prosesnya lama. Setidaknya, pemain harus bersama-sama minimal 2-4 musim. Kalau setiap tahunnya pemain ganti, maka kita mulai dari awal lagi. Dan ternyata Persib melakukan hal ini. Ini tidak benar. Apalagi, kalau mau juara di level Asia, setidaknya hampir semua pemain harus bersama-sama selama empat tahun.

Anda yakin bisa bawa Persib juara?

Kalau Anda sendiri yakin? Menjadi juara itu bukan target pelatih. Menjadi juara itu adalah target semua orang. Mulai dari pemain, manajemen, suporter, sponsor dan tentu pelatih. Kalau semua benar-benar mau Persib juara, maka ayo kita juara musim ini.

Hubungan Anda dengan Daniel Darko Janackovic seperti apa setelah tahu Anda bersedia menggantikannya?

Saya ini sudah 25 tahun menjadi pelatih. Saya profesional. Saya bersama Daniel hanya empat tahun. Selebihnya, 21 tahun sebagai pelatih profesional dengan lisensi A UEFA. Daniel memahami keputusan saya ini, karena sebetulnya juga dia mengakui kalau dia salah. Tapi semua sudah terjadi. Saya senang melatih tim ini, jadi saya memilih untuk melatih. Dan saya harap semua bisa mendukung saya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More